Jujur saya punya firasat buruk sejak fase publikasi. Firasat saya diperkuat saat Warner Bros dengan ceroboh merilis trailer Batman v. Superman yang akhirnya tenggelam dalam euforia Star Wars VI.
Firasat saya terbayar penuh setelah saya keluar dari teater. Ceritanya tidak konsisten. Dari awal sampai pertengahan, film ini bernuansa politik dan religi, yang saya suka. Dan setengahnya lagi berubah menjadi fantasi sains fiksi.
Saya tertarik dengan konsep dimana Superman adalah malaikat yang turun ke bumi pembawa kedamaian. Tapi konsep ini ditolak pemerintahan metropolis dan dunia. Superman bisa menyapu bersih ras manusia dengan kekuatannya. Keberadaanya membawa resiko yang Batman tak bisa ambil. Semua plot ini tidak terbayar dimanapun di pertengahan maupun akhir film. Ceritanya kehilangan kedua nuansa itu sepenuhnya. Malah beralih ke eksposisi berlebihan untuk instalasi Justice League. Ada beberapa potongan disana sini yang bisa dihapus atau diperbaiki.
Namun film ini tidak sepenuhnya jelek. Adegan perkelahiannya saya acungi jempol. Sudah dari kapan tau saya menunggu-nunggu Superman untuk berkelahi dengan lawan yang sebanding(setelah Zod), dan beberapa adegan yang mereferensikan komik The Dark Knight Returns karya Miller yang juga mempengaruhi dan menginspirasi instalasi ini. Saya yakin para penggemar komik DC, termasuk saya, mengapresiasi
fan service ini.
Pesan saya kepada DC.
Jangan mengikuti Marvel. Langkah mereka bukan langkah kalian.
Kalian punya dunia yang berbeda. Strategi kalian mestinya juga berbeda.